Senin, April 22, 2019

Ngobrolin Hutan Sosial. : Launching Buku Dampak Perhutanan Sosial

Dear para pembaca blog,

Minggu kemarin, tepatnya hari Senin tanggal 15 April 2019 jam 13.00, aku diundang ke acara yg diadakan Kemetrian Lingkungan Hidup & Kehutanan Republik Indonesia bersama Forest Digest. Acara berjudul Ngobrolin Hutan Sosial. : Launching Buku Dampak Perhutanan Sosial. Diadakan di Ruang Rimbawan Gedung Manggala Wanabakti Jakarta. Acaranya sendiri dikemas dalam bentuk talkshow bedah buku serta membahas tentang hutan sosial. Ini adalah kali kedua Ngobrolin Hutan Sosial, sebelumnya yang pertama diadakan pada tanggal 4 April 2019 lalu.






Acara dipandu MC Ibu Siti dari Kemetrian Lingkungan Hidup & Kehutanan Republik Indonesia. MC menjelaskan maksud diadakannya acara ini. Lalu semua yg ada di acara menyanyikan lagu Indonesia Raya berdiri.








Sambutan awal dilakukan oleh Dirjen Perhutanan Sosial dan kemitraan Lingkungan : Dr. Bambang Supriyanto. Dr. Bambang berterima kasih kepada penulis buku karena buku ini telah terbit untuk menjadi pegangan masyarakat dalam mengenal hutan sosial. Perhutanan Sosial merupakan program pemerintah untuk memberikan kualitas hidup yg lebih baik bagi masyarakat Indonesia terutama mereka yg tinggal di area perhutanan sosial. Alasan melakukan perhutanan sosial adalah adanya ketimpangan pengelolaan untuk mendapatkan manfaat hutan. Maksud Perhutanan sosial adalah skema pemberian hak mengelola hutan negara untuk masyarakat. Inilah yang akan membuat senang bahwa kesetaraan dan kesejahteraan mulai merata. Dengan ada hutan sosial, masyarakat memiliki rasa memiliki terhadap hutan itu sendiri. Dengan adanya hutan sosial, rakyat merasa terlindungi dan membantu masyarakat berkembang secara ekonomi. Capaian areal PS seluas 2,6 juta ha dengan jumlah KUPS sebanyak 5245 KUPS dengan berbagai potensi Hasil hutan baik kayu, HHBK dan jasa lingkungan (kopi, madu, aren, kepiting, dll). Hal-hal penting utk keberhasilan pengembangan usaha hutan sosial : offtaker/pasar, pendamping, local champion, pembiayaan, inovasi.











Pembicara kedua yaitu penulis buku 'Dampak Perhutanan Sosial' dan Guru Besar UGM, Pak Mudrajad Kuncoro. Buku “Dampak Perhutanan Sosial” ditulis Beliau melalui riset yg panjang bertahun-tahun. Buku bisa didapatkan di toko buku. Kalian juga bisa membacanya dalam format pdf di website forest digest. Buku Dampak hutan sosial terdiri dari 200 halaman. Buku ini hasil kerjasama para peneliti dari 4 kampus; Univ. Lampung, Univ. Gadjah Mada, Univ. Atma Jaya Yogyakarta, dan Sekolah Tinggi Pariwisata Ambarukmo Yogyakarta. Ini buku Dampak Perhutanan Sosial! Buku ini mendapatkan penghargaan best paper award September lalu. Bpk Mudrajad Kuncoro, penulis & Guru Besar Fakultas Ekonomika & Bisnis UGM yg mengatakan bhwa dari total 42 juta luas hutan di Indonesia, yg dinikmati oleh UKM & petani hanya 4,14% sementara sisanya dinikmati oleh kalangan atas. Hutan kemasyarakatan (HKm) adalah hutan negara dgn sistem pengelolaan




HKm adalah solusi kementrian untuk masyarakat masuk ke daerah hutan. Hutan yg bertujuan memberdayakan masyarakat tanpa mengganggu fungsi pokoknya. Penguasan aset dan dampak perhutan sosial yaitu pemberian akses kelola perhutanan sosial. Strategi perhutanan sosial : pemberian akses kelola hutan sosial & peningkatan kapasitas usaha hutan sosial. Dari segi Ekonomi, hutan berpengaruh pada : produksi & pendapatan , lapangan kerja, penurunan kemiskinan, kemitraan bisnis. Dampak ekonomi hutan sosial : produksi dan pendapatan, lapangan kerja, penurunan kemiskinan, kemitraan bisnis & faktor penentu pendapatan. ampak lingkungan dlm pengelolaan HKm dpt dilihat dari aspek produksi, ekologi dan sosial. Aspek produksi Hkm terdiri atas perubahan tutupan lahan, jenis tanaman di lahan Hkm, rehabilitas di lahan Hkm, pertumbuhan bibit dan tanaman pokok di lahan Hkm. Aspek ekologi yaitu ancaman dalam pengelolaan Hkm yg dpt diketahui dari adanya tingkat ancaman kebakaran, pencurian, gangguan satwa dan perburuan liar. Aspek sosial dapat dilihat dari adanya partisipasi masyarakat dlm pengelolaan Hkm yg meliputi partisipasi pada tahap perencanaan, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi serta keterlibatan stakeholders. Kebakaran, pencurian dan satwa adalan ancaman2 bagi HKm. Repong damar di krui lampung yang terancam utk kelapa sawit jadi selamat & mendapat Kalpataru.



















Dulu sering terjadi konflik antara polisi hutan dan petani. Sekarang konflik seperti itu berkurang karena masyarakat diberikan hak pengelolaan hutan. Untuk Dampak ekonomi nya, terlihat pada keluarga paguyuban tani.



Pembicara ketiga yaitu Wito Laros dari Kemitraan. Pak Wito sedang membeberkan masalah Pendampingan HKm. HKm banyak di hutan lindung. Masyarakat bisa mengelola hutan lindung.



Kalbar , Lampung dan Sumatra barat adalah daerah yang paling banyak hutan sosial. Papua dengan budidaya gaharu dan madu. Ada 10 hutan desa. Dengan pendampingan . Beberapa contoh kups, komoditi dan provinsinya. Arang kelapa memiliki orientasi pasar sangat bagus. Pengelolaan hutan desa rencana kerja usaha dengan adanya tata ruang kesepakatan. Warga juga turut serta dalam menjaga hutan desa. Pinang menjadi komoditi warga sungai beras, Jambi padahal harga kelapa sawit disana hanya sekitar 400. Hutan sosial 95 persen di nikmati oleh konglomerat. DIY dan Lampung 5,2 persen tumbuh rendah dan tingkat kebahagian tinggi. HKM di Lampung adalah tanaman adalah kopi. Terjadinya penyerapan kerja sebelum dan sesudah SK HKm terjadi. Ternyata dampak Hkm bagi para petani cukup signifikan bagi kulitas hidupnya. Dari dua daerah yg dibahas pd buku “Dampak Perhutanan Sosial” yaitu Lampung dan Yogyakarta. Kendala yang di hadapi HKm : akses pasar, akses bahan baku, peralatan masih tradisional, dll.

Pembicara keempat yaitu Bu Nur dari Anggota Pokja Perhutanan Sosial. Bu Nur menjelaskan manfaat buku ini untuk aplikasi kehidupan sehari-hari.Keterlibatan dinas, kph untuk pendampingan sangat penting..sementara LSM lebih utk advokasi (sebelum ijin dan setelah mendapatkan ijin), sementara pendampingan untuk usaha masih kurang. Pertanyaannya apakah peningkatan pendapatan membuat masyarakat berubah perilakunya bisa menabung dll? Pemberian akses hutan sosial harus mewaspadai ancaman terhadap sustainabilitas lingkungan, sosial dan ekonomi.



Pembicara kelima yaitu Kang Ilham dari Paguyuban Tani Sunda Hejo sekaligus pegusaha kopi. Kopi sunda hejo dari paguyuban tani menjadi koperasi. Kang Ilham menceritakan perjuangannya mendirikan Sunda Hejo sampe sekarang punya berbagai karyawan dengan latar belakang yg beragam. Ada yg berawal dari gangster dan penagih hutang pada akhirnya menjadi petani kopi yg berwawasan lingkungan. Kopi Sunda Hejo yang awalnya paguyuban skrg sudah menjadi koperasi dan menjadi salah satu penerima SK HKm. Pemerintah keren sudah memikirkan kelompok tani. Dengan memberikan akses mengelola hutan. Petani perlu ketenangan untuk mengelola hutan jadi budidaya kopi.









Setelah semua pembicara menjelaskan, ada sesi tanya jawab & pemberian buku. Selain bisa mendengar talkshow, para peserta jg dikasih makan siang & bisa menikmati kopi dari Sunda Hejo.






Terima kasih banyak Kemetrian Lingkungan Hidup & Kehutanan Republik Indonesia bersama Forest Digest. Bahagia banget ada kementrian yg mau menjelaskan tentang hutan & terbuka ke umum.  Semoga ada acara yg lebih seru & bermanfaat lainnya lagi nanti.










 Buat nambah semangat aku nulis blog, bisa loh share article ini di G+ atau sosmed kalian.
Yang mau komen juga boleh banget. Kritik & saran berguna banget buat lebih baik lagi.
Terima kasih sudah membaca blog ini.
Sampai jumpa di tulisan selanjutnya.
Have a amazing day & don't forget to smile !!

Love,
Mirza 


Please don't copy & paste photo without permission.
Contact me if u want my article/photo !!
Copyright of mirzapradita.com

Tidak ada komentar: