Minggu, Januari 27, 2013

PP Rumah-Pengungsian Banjir: 2 cerita yang sangat berharga

Assalamu alaikum,

Hari ini mau cerita pengalaman rabu kemarin.

Rabu kemarin kan mau ketemu sama teman-teman WMB untuk menghibur korban banjir Jakarta di pengungsian daerah Daan Mogot. Tadinya mau ikut kumpul bareng di Citos, tapi karena sudah kelamaan jadi ke Daan Mogot duluan deh, hehe ^^.


CERITA 1

Nah sampai di Daan Mogot bingung jalan. Rumah deket tapi ga pernah main ke daerah itu. Muter-muter, pakai nyasar, akhirnya aku putusin naik ojek. Kasian liat ade. Baru sampe Jakarta sudah disuruh anter dan disuguhi kemacetan Jakarta yang gila.

Pas naik tukang ojek, nanya-nanya sama tukang ojeknya. Abis daripada bengong, mending denger cerita hidup orang. 

Bapak ojeknya cerita kalau Beliau tinggal di Imigrasi, punya anak 3. 2 anak sudah menikah dan satunya masih SMA. Beliau sudah punya cucu juga.

Saat Jakarta hujan, rumah Beliau banjir sedalam 1 meter. Ya, setengahnya orang dewasa. Beliau bilang yang sampai bantuannya cuma mie karena rumahnya di gang dan harus menggunakan perahu karet untuk menjangkau rumahnya. Berita tentang kebanjiran di kawasannya juga ga sampai di media.

Di sekitar rumahnya sering banjir, apalagi kalau Jakarta hujan besar, tapi sayang belum ada yang bisa menanggulanginya. Jadi ketika banjir, Beliau hanya bisa pasrah dan menunggu bantuan. Maklum jarak rumahnya yang banjir dengan daerah yang tidak banjir cukup jauh.

Begitulah ceritanya. Beliau dengan sabar nanyain tempat yang ingin saya tuju dan ga ada muka kesedihan walaupun rumahnya masih banjir. Sesampainya di tujuan, saya ingin bayar. Eh bapak ojeknya bilang "Bayar seikhlasnya aja mbak, toh saya bukan tukang ojek, saya hanya ingin bantu mbak. Walaupun saya sedang kena musibah dan ga punya uang banyak, tapi saya senang bantu orang."

Alhamdulillah, masih ada orang sebaik Bapak itu padahal saya sudah bikin Bapak itu pusing untuk mencari alamat tempat pengungsian banjir.

CERITA 2

Di tempat pengungsian banjir, saya berkenalan dengan ibu menggendong anaknya yang berusia sekitar 1 tahunan. 

Setelah kegiatan di tenda pengungsian selesai, saya dan teman saya Ocha mengunjungi kontrakannya. kontrakannya tidak jauh dari lokasi pengungsian, hanya saja masuk gang-gang kecil. Kontrakannya berada di lantai 2, berukuran 3 x 3, tidak ada pintu, hanya ada pembatas dari kayu tipis agar sang anak tidak keluar sendiri. Mereka tinggal bertiga. Tidak memiliki apa-apa, keuscuali kasur, tv kecil hitam putih, baju-baju, lemari pinjaman dari pemilik kontrakan dan alat masak sederhana. Semua terlihat tidak layak.

Saat di kontrakan, si ibu bercerita sambil menangis dia pernah mencoba bunuh diri. Saking tidak kuatnya menahan beban sendiri. Itu Beliau lakukan sekitar 1 bulan yang lalu. Bekas lukanya masih ada dan ditunjukkan ke kami. Dulu Beliau bekerja, namun kini tidak lagi karena kasihan dengan sang anak. Kehidupannya hanya bergantung dari sang suami.

Sang suami bekerja sebagai cleaning servis di salah satu supermarket terbesar di Jakarta. Berangkat dari rumah menggunakan sepeda. Kalau sepedanya rusak dan tidak ada uang untuk memperbaiki, suami Beliau jalan kaki. Suaminya sangat rajin bekerja, libur hanya hari sabtu, itupun kalau ada yang menggantikan. Gaji suaminya hanya 800 ribu sebulan. Uang itu habis untuk membayar kontrakan 350 ribu. Sisanya untuk kebutuhan lain, tapi 800 ribu tidak cukup. Banyak keperluan yang harus dicukupi, khususnya untuk sang anak.Beliau tidak bisa memberinya ASI karena dia sendiri kurang nutrisi yang cukup. Mau tidak mau mereka harus membelikan anaknya susu kotak.

Mereka harus hutang dengan tetangga. Pengembalian hutangpun 2 x lipat dari harga hutangnya. Tidak ada pilihan lain. Pernah Beliau hutang ke keluarga. Sayang, keluarga meminjamkan dengan hinaan. Mereka selalu dicaci setiap bertemu keluarga padahal keluarga mereka berkecukupan. Keluarga mereka sangat membenci mereka sampai nikah dan lahiran anaknya juga tidak ada yang menjenguk dan menolong. Rasanya jleb banget mendengarkan cerita Beliau, harusnya keluarga itu saling membantu dan tempat pertama jika membutuhkan pertolongan.

Kehidupannya hanya bergantung dari penghasilan suami dan hutangan. Kadang mereka tidak makan untuk menutupi hutangnya, bahkan sang anak hanya meminum air saja seharian.

Ternyata banyak pelajaran yang bisa saya ambil dari mereka. Mereka mengajarkan saya ikhlas dan melakukan apapun demi orang yang disayang.

Kehidupan itu memang tidak selamanya indah, tapi bagaimana kita bisa bersikap dengan yang terjadi di hidup kita. Bunuh diri bukan jalan satu-satunya meraih kebahagiaan. Jika kita terus berusaha, yakinlah akan ada jalan keluar dan pelangi yang menghiasi kehidupan kita.

Wassalamu alaikum.

Regards,
Mirza.



Posting Komentar